TARAKAN – Sebanyak 15 pekerja asal Jawa Barat meninggalkan perkebunan karet di Sajau, Kabupaten Bulungan, setelah mengaku sistem kerja dan penghasilan yang diterima berbeda dari informasi saat perekrutan.
Salah seorang pekerja, Asis (41), mengatakan dirinya bersama 20 warga lainnya berangkat dari Palabuhan Ratu, Sukabumi, setelah mendapat tawaran gaji Rp3,9 juta per bulan. Mereka juga dijanjikan uang absensi Rp400 ribu dan jatah beras 20 kilogram setiap bulan.
Namun, setelah tiba di lokasi, para pekerja justru menjalani masa pelatihan selama satu bulan dengan upah Rp75 ribu per hari. Asis mengaku hanya menerima sekitar Rp1,1 juta setelah pendapatan selama pelatihan dipotong kasbon dan kebutuhan lainnya.
Menurut Asis, setelah masa pelatihan, sistem pembayaran yang diterapkan ternyata menggunakan sistem borongan berdasarkan hasil produksi. Kondisi tersebut membuat para pekerja khawatir penghasilan yang diterima tidak sesuai dengan kebutuhan keluarga di kampung halaman.
Merasa informasi awal tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya, 15 pekerja akhirnya meninggalkan mess perusahaan dan menuju Tarakan untuk mencari solusi. Mereka kini berharap mendapat bantuan untuk kembali ke Jawa Barat, setelah mengaku hanya memiliki sisa uang sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per orang.*(Isk/kdy)











