TARAKAN — Panggung itu tidak sekadar disiapkan untuk menampilkan gerak tubuh. Di atasnya, ada ambisi, latihan berhari-hari, kostum yang dipersiapkan dengan teliti, dan hasrat untuk menunjukkan bahwa seni tari di Tarakan belum kehilangan denyutnya. Antusiasme grup tari mengikuti Gerak Pesona Budaya Paguntaka (GEPAK) 2026 di Perumahan PNS, Kelurahan Juata Permai, Kecamatan Tarakan Utara, menunjukkan hal itu.
Sebanyak 33 tim tercatat siap ambil bagian dalam pentas tari yang digagas pengurus RT 21 bersama GEPAK Kuning Kota Tarakan.
Pesertanya beragam. Ada kelompok tari pelajar tingkat SD, SMP dan SMA, sanggar tari, kelompok masyarakat, grup tari tingkat RT hingga komunitas. Mereka datang dari berbagai penjuru Kota Tarakan dengan latar belakang yang berbeda, tetapi membawa kebutuhan yang sama, panggung untuk berekspresi.
Kegiatan ini digelar pada 28–29 Agustus 2026, bertepatan dengan rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pentas dipusatkan di Tugu Perumahan PNS RT 21, Kelurahan Juata Permai, Tarakan Utara.
Pada hari pertama, Jumat, 28 Agustus, peserta mulai melakukan registrasi dan persiapan sejak pukul 15.30 WITA. Lomba dimulai pukul 16.10 WITA dan dibagi dalam sejumlah sesi.
Sesi pertama diisi peserta dari kalangan pelajar. Sebelas kelompok dijadwalkan tampil hingga pukul 18.00 WITA. Di antaranya SDN 10 Tarakan, SDN Utama 1, SDN Muhammadiyah 1 Tarakan, SDN 008 Grup 2, SDN 20 Sebengkok, SDN 028 Pesisir, SDN 036 Tarakan, SDN 016 Tarakan, SDN 045 Tarakan, SMA 03 Tarakan, serta SMP Katolik Fransiskus Xaverius.
Setiap kelompok memperoleh waktu tampil sekitar sepuluh menit.
Selepas azan Magrib, panggung berhenti sejenak. Waktu itu digunakan untuk istirahat, ibadah, sekaligus mempersiapkan peserta berikutnya.
Pukul 19.00 WITA, pertunjukan kembali bergerak. Enam peserta berikutnya tampil dalam sesi kedua. Mereka berasal dari SDN 034 Tarakan, SDN 008 Grup 1, SD Moeda, SMA 2 Tarakan, Sanggar Tari Mandau Dayak, dan Sanggar Tari Larantuka 01.
Namun malam itu tidak semata-mata tentang kompetisi. Sekitar pukul 20.15 WITA, rangkaian acara memasuki seremoni pembukaan. Ketua panitia dijadwalkan menyampaikan sambutan, dilanjutkan sambutan sekaligus pembukaan resmi oleh Camat Tarakan Utara.
Setelah dokumentasi bersama, panggung kembali digunakan. Sesi ketiga dimulai sekitar pukul 20.40 WITA dan menghadirkan kelompok-kelompok tari dari unsur masyarakat umum.
Nama-nama peserta seperti Grup Jejer RT 21 Blok 1, Grup Tari Semandak Pagun Selumit, RT 31 Karang Anyar, Ikawangi 1 Tarakan, Putri Temanggung RT 01 Belalung, Putri Lumot Selumit, Penggiang Temanggung Belalung, Serumpun Taka, Nona Timur Blok B, Angkasa Raga Project, Sanggar Tari Has’Arku, Ika Wangi 02, hingga Srikandi Karang Rejo dijadwalkan menghiasi panggung hingga sekitar pukul 22.50 WITA.
Hari pertama kemudian ditutup pada pukul 23.15 WITA. Panitia memberikan evaluasi singkat sekaligus menginformasikan peserta yang akan tampil pada hari berikutnya.
Di balik panjangnya daftar peserta itu, ada sebuah kenyataan yang hendak dibaca oleh penyelenggara: Tarakan memiliki banyak orang yang ingin menari, tetapi tidak selalu memiliki tempat untuk mempertunjukkannya.
Ketua RT 21, H. Rus’an, menangkap persoalan itu dari dekat. Menurut dia, tingginya jumlah peserta GEPAK 2026 bukan sekadar angka dalam daftar lomba. Itu merupakan tanda bahwa potensi seni dan budaya di Tarakan cukup besar. Persoalannya bukan terletak pada minimnya minat masyarakat, melainkan pada terbatasnya ruang yang dapat mempertemukan para pelaku seni dengan penonton.
“Mereka butuh wadah. Budaya di Tarakan sangat besar dan potensinya untuk dikembangkan juga besar. Mereka hanya butuh dibuatkan wadah dan sarana, karena mereka kreatif,” ujar Rus’an.
Pernyataan itu menjadi alasan utama mengapa panggung di kawasan Perumahan PNS tersebut dibangun.
Bagi kelompok pelajar, panggung semacam ini menjadi ruang untuk menguji keberanian sekaligus memperkenalkan seni tradisi kepada generasi sebaya. Bagi sanggar dan komunitas, ia menjadi kesempatan untuk memperlihatkan karya yang selama ini lebih sering berhenti di ruang latihan.
Dan bagi kelompok-kelompok masyarakat, termasuk grup tari tingkat RT, panggung tersebut menjadi bukti bahwa kesenian tidak harus selalu menunggu panggung besar.
Justru panggung kecil di lingkungan warga bisa menjadi tempat lahirnya sesuatu yang lebih besar.
GEPAK 2026 kemudian mengambil posisi bukan hanya sebagai perlombaan tari. Ia menjadi pertemuan antara pelajar, sanggar, komunitas, dan masyarakat dalam satu ruang kebudayaan.
Ada kompetisi di sana. Ada penilaian dan pemenang. Tetapi di balik itu, ada tujuan yang lebih panjang: menjaga agar seni tari tetap memiliki ruang hidup di tengah kota yang terus bergerak.
Antusiasme 33 tim yang mendaftar menjadi sinyal awal. Bahwa bakat itu ada. Bahwa minat itu tumbuh. Dan bahwa ketika sebuah panggung dibuka, mereka datang. (ant)












