Ketika Panggung Tari Menjadi Rumah Kebudayaan

Kaltara, Tarakan106 Dilihat

TARAKAN- Di sebuah sudut permukiman di Juata Permai, Tarakan Utara, panggung itu akan berdiri. Bukan di gedung pertunjukan dengan lampu kristal dan karpet merah, melainkan di tengah lingkungan warga.

Namun selama dua hari, 28–29 Agustus 2026, tempat itu akan berubah menjadi ruang pertunjukan yang mempertemukan gerak, musik, kostum, dan ingatan tentang kebudayaan. Namanya Pentas Tari Perum PNS.

banner 336x280

Kegiatan ini menjadi bagian dari Gerak Pesona Budaya Paguntaka (GEPAK) 2026, sebuah ikhtiar warga untuk membawa kesenian tradisional lebih dekat kepada masyarakat. Digelar dalam rangkaian momentum peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tahun 2026, kegiatan ini tidak semata-mata dirancang sebagai hiburan.

Ada gagasan yang ingin ditanamkan, bahwa kemerdekaan juga berarti memberi ruang kepada masyarakat untuk berekspresi, berkreasi, dan merawat identitas kebudayaannya.

Bagi Ketua RT 21 Perumahan PNS, H. Rus’an, panggung tersebut merupakan upaya membuka ruang kreasi yang lebih luas.

“Event ini digagas untuk memberikan ruang kreasi, tidak hanya bagi warga kami di Perumahan PNS, tetapi juga untuk Kota Tarakan tercinta,” kata Rus’an.

Menurut dia, keberagaman yang menjadi wajah Kota Tarakan merupakan modal penting untuk terus menghidupkan kegiatan-kegiatan kebudayaan. Tarakan, dengan masyarakatnya yang plural, memiliki beragam tradisi dan ekspresi seni yang layak mendapat ruang untuk berkembang.

Karena itu, Pentas Tari Perum PNS diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan.

“Kami sangat senang bisa berpartisipasi atas kontribusi nyata dalam mengembangkan budaya daerah di Kota Tarakan yang sangat pluralis,” ujarnya.

Tari dalam acara ini bukan sekadar rangkaian gerak yang dihafalkan. Ia adalah bahasa tubuh yang membawa cerita. Dari hentakan kaki, ayunan tangan, hingga kemegahan busana tradisional, ada jejak masyarakat yang berusaha terus dikenali oleh generasi berikutnya.

Di tengah derasnya hiburan digital, panggung semacam ini menemukan relevansinya.

Anak-anak muda yang selama ini lebih akrab dengan layar telepon genggam akan berhadapan dengan sesuatu yang berbeda: panggung, penonton, musik tradisional, dan tubuh yang bergerak mengikuti irama.

Di sana, kebudayaan tidak hadir sebagai benda museum.

Ia hadir, bernapas, dan berinteraksi dengan penontonnya.

Pentas Tari Perum PNS juga memperlihatkan satu hal yang kerap luput dari perhatian: pelestarian budaya tidak selalu harus dimulai dari gedung kesenian atau institusi besar.

Ia bisa tumbuh dari lingkungan tempat orang tinggal. Dari RT, Dari warga.

Dari orang-orang yang bersedia menyediakan waktu, tenaga, dan ruang untuk sebuah pertunjukan.

Karena itu, GEPAK 2026 bukan hanya tentang siapa yang tampil dan siapa yang menjadi juara. Lebih jauh, ia menjadi pertemuan antara mereka yang menari dan mereka yang datang untuk menyaksikan.

Sebuah perayaan kecil yang mencoba menjawab pertanyaan besar bagaimana membuat kebudayaan tetap menarik bagi generasi yang terus bergerak menuju zaman baru? Jawabannya mungkin sederhana. Beri mereka panggung.

Rus’an berharap kegiatan tersebut dapat terus berkembang pada tahun-tahun mendatang. Dukungan dari berbagai pihak, menurutnya, akan menjadi bagian penting agar kegiatan serupa tidak hanya bertahan, tetapi juga memiliki jangkauan yang lebih luas.

“Semoga event ini ke depan bisa mendapatkan support lebih dari semua pihak,” katanya.

Ia memastikan warga RT 21 akan terus berupaya menjaga keberlangsungan kegiatan tersebut.

“Apapun itu, kami akan mengupayakan yang terbaik atas keberlangsungan event ini,” ujar Rus’an.

Pada 28–29 Agustus nanti, panggung di RT 21, Juata Permai, akan menjadi saksi. Para penari akan datang membawa latihan berhari-hari, kostum yang dipersiapkan dengan teliti, serta keberanian untuk berdiri di hadapan penonton.

Lampu menyala, Musik dimainkan, Kemudian tubuh-tubuh itu bergerak. Dan untuk beberapa saat, di tengah riuh kehidupan sebuah permukiman, kebudayaan menemukan kembali suaranya.

Pentas Tari Perum PNS. Sebuah panggung warga. Sebuah perayaan kemerdekaan. Sebuah ruang kreasi.

Dan mungkin, sebuah cara sederhana untuk memastikan bahwa warisan budaya tidak hanya dikenang, tetapi terus ditarikan. (Ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *