TARAKAN – Upaya menjadikan Tarakan sebagai pintu ekspor produk perikanan melalui jalur udara masih menghadapi sejumlah tantangan. Minimnya kepastian muatan membuat penerbangan kargo langsung yang membawa produk laut belum berjalan maksimal.
Kepala Bidang Keamanan Penerbangan dan Pelayanan Darurat Bandar Udara Juwata Tarakan, Daverius Maarang mengatakan, penerbangan kargo langsung dari Tarakan telah berjalan sekitar lima bulan. Namun, pengiriman produk perikanan melalui jalur tersebut baru terealisasi sekitar empat kali penerbangan, meski rute tersedia setiap pekan.
“Sekitar lima bulan, tetapi pengangkutan ikan hanya bisa beroperasi sekitar empat kali penerbangan. Padahal penerbangannya setiap minggu ada,” ujar Daverius, Kamis (24/9).
Menurutnya, persoalan utama bukan pada operasional penerbangan, melainkan kesiapan pengiriman produk perikanan yang belum konsisten. Rute yang sebelumnya melayani Tarakan-Hong Kong kemudian ditambah Tarakan-Shenzhen. Saat ini, penerbangan ke Shenzhen masih berjalan, sedangkan rute Hong Kong dihentikan sementara. Daverius juga menyoroti mekanisme pemeriksaan produk ekspor yang melibatkan BPPMHKP dan Badan Karantina Indonesia agar pembagian kewenangan lebih jelas dan tidak terjadi pemeriksaan berulang.
Ia menilai kepastian muatan menjadi faktor penting bagi keberlangsungan penerbangan kargo karena operator membutuhkan perhitungan bisnis yang jelas. Untuk rute Tarakan-Hong Kong, kerja sama penerbangan berlangsung selama enam bulan dan kini memasuki bulan kelima. Sementara itu, Kepala BPPMHKP Tarakan Piyan Gustaffiana mengatakan evaluasi pelayanan ekspor terus dilakukan bersama instansi terkait, termasuk Karantina, agar proses pengiriman produk perikanan dapat berjalan lebih efektif.*(isk/kdy)






