TARAKAN – Upaya mendorong ekspor langsung komoditas dari Kalimantan Utara (Kaltara) masih menghadapi kendala logistik. Salah satu persoalan utama yang disorot adalah keterbatasan kontainer ekspor di daerah, sehingga pelaku usaha belum leluasa mengirim komoditas langsung ke pasar luar negeri dari Kaltara.
Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam diskusi Badan Karantina Indonesia (Barantin) bersama pelaku industri dan eksportir di Kaltara, Minggu (30/8). Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mengatakan, kendala ekspor tidak hanya berkaitan dengan proses karantina, tetapi juga ketersediaan kontainer yang sesuai untuk kebutuhan pengiriman komoditas ke luar negeri.
Menurut Karding, keterbatasan kontainer ekspor membuat pelaku usaha harus mencari alternatif jalur pengiriman. Salah satu skema yang kini dipertimbangkan adalah menggunakan kontainer biasa untuk membawa komoditas dari Kaltara menuju Surabaya. Setelah tiba di kota tersebut, barang kemudian dipindahkan ke kontainer yang memenuhi persyaratan ekspor.
Skema tersebut diharapkan dapat menjadi solusi sementara untuk menekan biaya logistik. Pasalnya, kontainer ekspor dinilai memiliki biaya yang cukup tinggi. Namun, pola pengiriman melalui Surabaya tetap membutuhkan perhitungan matang, terutama untuk komoditas perikanan seperti ikan segar dan ikan hidup yang membutuhkan penanganan khusus agar kualitasnya tetap terjaga selama perjalanan.
Selain persoalan kontainer, pelaku usaha juga menyampaikan kendala sertifikasi untuk pengiriman komoditas perikanan. Barantin akan mengoordinasikan persoalan tersebut dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Pemerintah berharap pembenahan sektor logistik dan sertifikasi dapat dilakukan secara bersamaan agar ekspor komoditas Kaltara lebih efisien, kompetitif, dan tidak selalu bergantung pada daerah lain.*(isk/kdy)










