NUNUKAN – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman bencana yang paling banyak terjadi di Kabupaten Nunukan sepanjang 2026. Berdasarkan data terbaru, tercatat 32 kasus karhutla, lebih tinggi dibandingkan kejadian banjir yang mencapai 23 kasus.
Kepala BPBD Nunukan, H. Asmar, mengatakan penanganan karhutla menjadi salah satu fokus utama mitigasi bencana di daerah. Berdasarkan data BMKG, periode Juli hingga Agustus menjadi waktu dengan potensi karhutla yang cukup tinggi, sehingga kesiapsiagaan terus diperkuat.
BPBD bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Nunukan kini memperkuat langkah pencegahan melalui penyusunan peta kerawanan karhutla skala 1:50.000 serta optimalisasi kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA). Langkah tersebut ditujukan untuk mempercepat deteksi sekaligus respons awal ketika terjadi kebakaran.
Sekretaris DLH Nunukan, Freddyanto Gromiko, mengatakan tren karhutla sejak 2023 hingga 2026 cenderung meningkat. Nunukan Selatan menjadi salah satu wilayah dengan kejadian tertinggi. Karena itu, pemerintah menargetkan pembentukan MPA baru di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi tetapi belum memiliki kelompok relawan.
Saat ini terdapat 21 kelompok MPA yang telah terbentuk, terdiri dari 10 kelompok melalui DLH Nunukan dan 11 kelompok melalui KPH Nunukan. Selain meningkatkan kapasitas kelompok yang sudah ada melalui pelatihan berkala, pembentukan MPA baru akan menyasar wilayah rawan di 12 kecamatan yang belum memiliki kelompok relawan.*(isk/kdy)












