20 Kilometer di Tengah Lumpur: Perjuangan Andre Menembus Isolasi Krayan

Kaltara, Nunukan31 Dilihat

NUNUKAN — Lumpur itu seolah tak pernah kering di jalur Krayan. Ia lengket, berat, dan tak jarang menelan roda kendaraan yang nekat melintas. Di jalur inilah Andre, seorang sopir pengangkut kebutuhan pokok, menggantungkan hidup sekaligus mempertaruhkan tenaganya setiap hari.

Perjalanan dari Kecamatan Krayan menuju Krayan Selatan yang semestinya hanya memakan waktu dua hingga tiga jam, kini berubah menjadi perjalanan panjang hingga dua atau bahkan tiga hari. Bukan karena jarak yang bertambah, melainkan medan yang kian sulit ditaklukkan.

Setiap kali berangkat, Andre tahu risikonya. Mobilnya bisa saja terjebak di kubangan lumpur, mogok di tengah hutan, atau rusak tanpa kepastian bantuan cepat datang. Namun, ia tetap melaju.

“Karena dari sini dia memperoleh rupiah untuk kehidupan,” ujar Camat Krayan Selatan, Oktavianus Ramli, menceritakan keseharian Andre, Selasa (14/4).

Di jalur itu, lumpur bukan lagi hambatan, melainkan teman akrab. Andre dan sopir lainnya telah terbiasa dengan kondisi ekstrem meski konsekuensinya tak ringan. Hampir setiap perjalanan berujung pada kerusakan kendaraan. Sparepart menjadi barang yang wajib dibawa, meski tak selalu cukup.

Tak jarang, perjalanan terhenti total. Mobil yang rusak memaksa Andre bermalam di tengah jalan, menunggu bantuan atau sekadar berharap ada sopir lain yang melintas membawa suku cadang. Dua hingga tiga hari terjebak di jalur sepi bukan lagi hal asing baginya.

Namun, ada satu kisah yang paling membekas.

Di tengah keterbatasan, Andre pernah memilih berjalan kaki sejauh 20 kilometer. Ia menembus jalan tanah, menyusuri medan berat, hanya untuk mencari bantuan ke desa terdekat seperti Lembudud atau Long Layu.

Langkah demi langkah di tengah sunyi hutan itu bukan sekadar upaya memperbaiki kendaraan. Itu adalah bentuk tanggung jawab agar kebutuhan masyarakat di Krayan Selatan tetap sampai.

Di wilayah yang dikenal sebagai penghasil beras Adan itu, peran Andre lebih dari sekadar sopir. Ia adalah penghubung kehidupan. Tanpa dirinya, distribusi bahan pokok bisa terhenti, dan warga semakin terisolasi.

Ironisnya, perjuangan itu tak selalu berbanding lurus dengan hasil. Keuntungan yang didapat kerap habis untuk biaya perbaikan kendaraan. Namun, Andre tetap kembali ke jalan yang sama, menghadapi lumpur yang sama.

“Tahun lalu beliau ini juga satu-satunya sopir yang berani masuk ke Krayan Selatan,” kata Oktavianus.

Di balik ketangguhannya, Andre menyimpan cerita lain. Ia pernah mencoba mengikuti seleksi calon prajurit TNI, sebuah harapan untuk mengubah nasib. Namun, langkahnya terhenti di sana ia tidak lolos.

Kini, medan juangnya bukan barak militer, melainkan jalan rusak yang membelah pedalaman Krayan. Di sana, di antara deru mesin yang tersendat dan roda yang terperosok, Andre terus berjalan—kadang dengan mobilnya, kadang dengan kedua kakinya. (rtg/ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *