TARAKAN – Program Sekolah Rakyat di Kota Tarakan belum mencapai target. Hingga April 2026, jumlah siswa yang terdaftar baru 69 orang, dari sasaran awal 200 siswa.
Kepala Dinas Sosial Tarakan, Arbain, mengatakan jumlah tersebut terdiri dari 42 siswa sekolah dasar dan 27 siswa sekolah menengah pertama. “Target awal 150 siswa SD dan 50 siswa SMP. Sampai sekarang baru 69 siswa, dan masih bisa berubah,” kata dia, Senin, 27 April 2026.
Arbain menjelaskan rendahnya jumlah peserta didik dipengaruhi waktu peluncuran program yang bertepatan dengan penerimaan peserta didik baru di sekolah umum. Kondisi ini membuat sebagian masyarakat, terutama dari keluarga kurang mampu, lebih memilih sekolah formal yang dinilai lebih pasti.
“Sekolah umum sudah lebih dulu membuka pendaftaran. Sementara Sekolah Rakyat saat itu belum sepenuhnya siap, sehingga orang tua khawatir anaknya tidak mendapatkan kepastian sekolah,” ujarnya.
Saat ini, kegiatan belajar mengajar Sekolah Rakyat masih menumpang di gedung Balai Latihan Kerja Kampung Enam milik Pemerintah Kota Tarakan. Fasilitas tersebut digunakan sementara sambil menunggu pengembangan program.
Pemerintah, kata Arbain, tetap membuka peluang bagi siswa untuk berpindah dari sekolah umum ke Sekolah Rakyat. Namun, proses administrasi yang cukup panjang menjadi kendala.
“Secara aturan bisa pindah, tapi prosesnya memang cukup rumit. Saat ini ada sekitar delapan sampai sembilan siswa yang sedang kami bantu proses perpindahannya,” katanya.
Ia menambahkan, pemerintah terus melakukan sosialisasi agar program tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat, khususnya keluarga kurang mampu yang membutuhkan akses pendidikan gratis.
“Ini program untuk membantu masyarakat. Kami dorong agar masyarakat tidak ragu memanfaatkannya,” kata Arbain. (rtg/ant)






