TARAKAN – Pergerakan harga sejumlah komoditas kebutuhan masyarakat mendorong inflasi Kota Tarakan pada September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan atau month to month (mtm) sebesar 0,26 persen.
Dengan angka tersebut, inflasi Tarakan secara tahun kalender atau year to date (ytd) mencapai 1,79 persen. Sementara inflasi tahunan atau year on year (yoy) berada di angka 2,82 persen. Secara nasional, inflasi September tercatat 0,30 persen secara bulanan dan 3,28 persen secara tahunan.
Kepala BPS Kota Tarakan Umar Riyadi mengatakan, tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau. Kelompok tersebut memberikan andil inflasi sebesar 0,28 persen. Sementara kelompok kesehatan, informasi, komunikasi dan jasa keuangan serta penyediaan makanan dan minuman atau restoran masing-masing menyumbang 0,01 persen.
Dari sisi komoditas, cabai rawit menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,2475 persen. Selanjutnya telur ayam ras 0,0509 persen, jagung manis 0,0221 persen, cabai merah 0,0145 persen dan soto 0,0125 persen. Sejumlah komoditas lain seperti beras, tomat, laptop, bawang merah dan obat gosok juga turut memberikan andil terhadap inflasi.
Di sisi lain, beberapa komoditas memberikan tekanan deflasi, di antaranya angkutan udara dan sawi hijau yang masing-masing menyumbang minus 0,0477 persen. Secara regional, inflasi bulanan Tarakan sebesar 0,26 persen masih di bawah Kaltara 0,37 persen, begitu pula inflasi tahun kalender 1,79 persen dibandingkan Kaltara 1,82 persen. Namun, inflasi tahunan Tarakan 2,82 persen lebih tinggi dibandingkan Kaltara yang mencapai 2,56 persen.*(isk/kdy)
