TARAKAN — Laju harga di Kota Tarakan kian menanjak dimoment Ramadan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Februari 2026 mencapai 5 persen—melampaui sasaran nasional yang dipatok 2,5 persen plus minus 1 persen. Angka ini menjadi sinyal tekanan terhadap daya beli warga di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi.
Data BPS menunjukkan inflasi bulanan (month to month) sebesar 0,58 persen. Adapun inflasi tahun kalender (year to date) tercatat 0,44 persen. Kenaikan harga emas perhiasan, cabai rawit, dan daging ayam ras menjadi penyumbang utama.
“Kenaikan bahan pokok seperti cabai, ayam, dan telur yang terjadi bersamaan menjelang Ramadan tentu langsung terasa dampaknya bagi masyarakat,” kata Kepala BPS Tarakan Umar Riyadi, Rabu, 4 Maret 2026.
Tekanan harga tak hanya datang dari dapur rumah tangga. Dari sisi kelompok pengeluaran, Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,29 persen. Disusul Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau sebesar 0,27 persen. Selain emas dan cabai, komoditas seperti ikan bawal, telur ayam ras, tomat, kangkung, kacang panjang, angkutan udara, hingga kue kering berminyak turut mengerek indeks harga.
Meski demikian, sejumlah komoditas menahan laju inflasi. Ikan layang, bawang merah, ikan bandeng, sawi hijau, bensin, deterjen bubuk, serta buku pelajaran sekolah dasar tercatat memberi andil deflasi.
Secara komparatif, inflasi tahunan Tarakan lebih tinggi dibandingkan rata-rata Provinsi Kalimantan Utara yang berada di angka 4,75 persen dan sedikit di atas angka nasional 4,76 persen. Selisih tipis ini menunjukkan tekanan harga di kota tersebut relatif lebih kuat dibandingkan wilayah sekitarnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Menjelang hari besar keagamaan, kelancaran distribusi dan kecukupan pasokan bahan pokok menjadi faktor penentu. Konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi daerah, amat bergantung pada stabilitas harga.
“Stabilitas harga adalah kunci menjaga daya beli. Kalau harga terkendali, ekonomi lokal tetap bergerak,” ujar Umar. (rtg/ant)












