Kondisi Jemaah Stabil, Rombongan Haji Tarakan Mulai Masuki Raudah

Kaltara, Tarakan22 Dilihat

TARAKAN — Pelaksanaan ibadah haji jemaah asal Kota Tarakan di Madinah berlangsung relatif lancar. Meski sebelumnya sempat terjadi insiden yang menimpa salah seorang jemaah, aktivitas ibadah secara umum tidak terganggu. Hingga kini, mayoritas jemaah dilaporkan dalam kondisi sehat dan tetap mengikuti rangkaian ibadah sesuai jadwal yang ditetapkan otoritas Arab Saudi.

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kota Tarakan, H. Asmawan, mengatakan pengaturan layanan jemaah berjalan terkendali, termasuk pelaksanaan kunjungan ke Raudah di Masjid Nabawi yang kini sepenuhnya menggunakan sistem digital Nusuk.

Menurut Asmawan, penerapan sistem tersebut membuat seluruh jemaah wajib mengikuti jadwal antrean yang telah ditentukan melalui aplikasi. Pola ini dinilai efektif mengurangi kepadatan, terutama di kawasan ibadah yang selama ini menjadi titik penumpukan jemaah dari berbagai negara.

“Pemerintah Arab Saudi memang mengarahkan pelayanan berbasis digital untuk menciptakan kenyamanan dan mengatur arus jemaah agar lebih tertib,” kata Asmawan, Selasa, 12 Mei 2026.

Ia mengakui, pada tahap awal sejumlah jemaah lanjut usia sempat mengalami kesulitan beradaptasi dengan sistem baru tersebut. Namun, seiring pendampingan petugas, sebagian besar jemaah mulai memahami mekanisme layanan yang diterapkan.

“Sekarang semuanya berbasis aplikasi dan jadwal. Setiap rombongan sudah memiliki waktu kunjungan masing-masing sehingga petugas juga lebih mudah melakukan pendampingan,” ujarnya.

Selain agenda ibadah di Masjid Nabawi, Asmawan memastikan layanan lain seperti penempatan hotel, distribusi konsumsi, serta transportasi jemaah masih berjalan sesuai skema Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Hingga saat ini, pihaknya belum menerima laporan gangguan serius yang memengaruhi aktivitas jemaah asal Tarakan.

Ia menambahkan, pola penyelenggaraan haji tahun ini tidak mengalami banyak perubahan dibanding musim sebelumnya. Pemerintah Arab Saudi masih mempertahankan sistem layanan yang diterapkan pada tahun lalu, termasuk penggunaan aplikasi Nusuk sebagai instrumen utama pengaturan mobilitas jemaah.

“Petugas maupun jemaah yang sebelumnya pernah berangkat tidak terlalu mengalami kesulitan beradaptasi karena sistemnya relatif sama,” kata Asmawan. (rtg/ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *