TARAKAN – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Juwata Tarakan. Kondisi paling signifikan terjadi Senin (31/8) siang ketika jarak pandang turun drastis hingga sekitar 500 meter. Situasi tersebut membuat sejumlah penerbangan menuju Tarakan harus menyesuaikan jadwal pendaratan demi keselamatan.
Kepala Bidang Teknik dan Operasi Bandara Juwata Tarakan, Fahruddin Rahmat mengatakan, dampak kabut asap sebenarnya telah dirasakan sejak 10 Agustus 2026. Namun, saat itu jarak pandang masih berada di kisaran 4 hingga 5 kilometer sehingga belum memberikan gangguan berarti terhadap operasional penerbangan. Kondisi kemudian memburuk sejak Minggu (30/8).
Penurunan jarak pandang semakin terasa pada Senin siang. Sekitar pukul 14.00 WITA, jarak pandang tercatat hanya 1 kilometer dan kembali turun menjadi sekitar 500 meter pada pukul 14.30 WITA. Kondisi tersebut membuat Super Air Jet IU 535 dan Batik Air ID 6675 yang hendak mendarat di Tarakan harus melakukan holding sebelum akhirnya mengalihkan penerbangan ke Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan.
Fahruddin menjelaskan, berdasarkan Aeronautical Information Publication (AIP), jarak pandang minimum untuk melakukan instrument approach di Bandara Juwata mencapai 2.500 meter. Meski demikian, keputusan untuk mendarat maupun lepas landas tetap berada di tangan pilot dengan mempertimbangkan kondisi aktual di lapangan. Hingga sore hari, pihak bandara masih memantau perkembangan jarak pandang dan berkoordinasi dengan AirNav, Stasiun Meteorologi Juwata serta maskapai.
Pihak Bandara Juwata memastikan seluruh fasilitas pendukung penerbangan, mulai dari runway, taxiway, apron, PAPI hingga runway light, tetap dalam kondisi siap digunakan. Personel dan peralatan juga disiagakan untuk menghadapi kondisi di luar normal. Bandara berharap kabut asap akibat karhutla segera berkurang sehingga jarak pandang kembali membaik dan aktivitas penerbangan di Tarakan dapat berjalan normal.*(isk/kdy)






