TARAKAN – Pelampung suar atau buoy di Alur Masuk Pelabuhan Tarakan mengalami kerusakan dan bergeser sekitar 1,4 kilometer dari posisi semula. Buoy yang menjadi salah satu sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP) tersebut diduga ditabrak kapal tunda pada awal Juli 2026.
Kepala Seksi Sarana Bantu Navigasi Pelayaran Distrik Navigasi Tipe A Kelas III Tarakan, Hendrikus, mengatakan kerusakan diketahui setelah pihaknya menerima laporan nelayan pada 2 Juli 2026 pukul 18.13 Wita. Petugas kemudian menelusuri pergerakan kapal di sekitar lokasi menggunakan sistem Vessel Traffic Service (VTS).
Hasil penelusuran menunjukkan TB LINTON 898 milik PT Cakrawala Nusa Bahari berada paling dekat dengan posisi buoy saat kejadian. Rekaman VTS juga menunjukkan kecepatan kapal turun dari sekitar 4 knot menjadi 2 knot. Setelah proses klarifikasi, perusahaan menyatakan bertanggung jawab atas kerusakan tersebut.
Namun, hingga 15 September 2026, perbaikan fisik buoy belum dilakukan. Hendrikus menyebut kerusakan cukup berat dan pengembalian buoy membutuhkan sarana khusus karena pelampung berbobot sekitar 3 ton, berada di perairan sedalam sekitar 30 meter, serta menggunakan sistem jangkar dan rantai untuk mempertahankan posisi.
Distrik Navigasi Tarakan telah dua kali berkirim surat kepada perusahaan dan berkoordinasi dengan KSOP. Karena batas waktu 60 hari untuk perbaikan telah terlewati dan kewenangan pemberian sanksi berada pada instansi lain, persoalan tersebut akan disampaikan kepada Mahkamah Pelayaran dan Direktorat Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP). Hendrikus menegaskan, keberadaan buoy penting untuk membantu keselamatan kapal dan nelayan, terutama saat berlayar pada malam hari.*(isk/kdy)












