BANDARA Yuvai Semaring di Long Bawan, Kecamatan Krayan, tak cuma jadi titik pendaratan armada-armada perintis. Landasan itu juga menangkap harapan dari setiap pesawat yang datang.
Pasokan bahan pangan sampai kebutuhan bahan bakar juga datang lewat “jalur langit”. Satu-satunya jalur yang bisa dipilih Pertamina Patra Niaga untuk menjalankan program BBM satu harga.
“Kalau tidak ada pasokan khusus ini, kami tidak punya pilihan selain beli BBM yang dikirim lewat perbatasan Malaysia,” kata Angelina Lynn, warga Desa Liang Butan, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Letak geografis Krayan beserta empat kecamatan lain yang dikepung hutan dan bukit, menjadikannya nyaris terisolir penuh. Bahkan untuk diakses dari wilayah terdekat di Nunukan sekalipun.
Angelina menyebut BBM yang dikirim Pertamina lewat pesawat adalah pilihan utama. Walaupun kadang harus mengantre dan kuotanya dibatasi agar terdistribusi merata.
“Karena kan bensin (pertalite, Red) itu harganya Rp 10.000 per liter. Sedangkan kalau beli eceran yang dari Malaysia, bisa Rp 18.000-25.000. Jadi ya lumayan selisihnya,” ungkap perempuan yang bekerja sebagai staf salah satu kampus negeri itu.
Tak hanya memanfaatkan pertalite untuk mobilitas harian, Angelina mengaku keluarganya juga menggunakan solar subsidi. “Solar harganya juga sama seperti di kota kan, Rp 6.800 seliter,” sambung gadis 20 tahun ini.
Selain untuk mesin yang dipakai bertani, solar kata dia, juga sebagai cadangan darurat bahan bakar genset untuk penerangan. “Karena listrik di sini juga masih susah,” sambung Angelina.
Kondisi lebih lega juga telah dirasakan warga di kecamatan terdekat, Krayan Timur. Sejak adanya pangkalan resmi yang baru, tiga tahun terakhir, perjuangan mereka mendapatkan BBM satu harga jadi lebih mudah.








