PDAM Ungkap Seluruh Embung Tarakan Dihuni Buaya Muara

Kaltara, Tarakan7 Dilihat

Kaltarapos.id – Kota Tarakan kembali diingatkan akan realitas ekologisnya sebagai wilayah pesisir yang sejak awal merupakan habitat alami buaya muara. Hal ini diperkuat dengan banyaknya temuan buaya di sejumlah sungai dan embung yang berada di Kota Tarakan. Oleh karena itu, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Alam mengimbau masyarakat agar tidak mendekati perairan, khususnya di kawasan embung yang ada di wilayah Tarakan.

Saat dikonfirmasi, Direktur PDAM Tirta Alam, Iwan Setiawan, mengatakan seluruh embung di Kota Tarakan terdeteksi memiliki keberadaan buaya. Informasi tersebut berdasarkan laporan petugas jaga di masing-masing embung. Bahkan, beberapa kasus hilangnya hewan ternak saat mencari makan di sekitar embung diduga akibat dimangsa buaya muara.

“Sejak sebelum manusia datang, Tarakan memang merupakan habitat buaya. Kondisi geografis Tarakan yang berada di kawasan pesisir, rawa payau, serta dekat dengan muara sungai seperti Bulungan, menjadikan wilayah ini sebagai ekosistem alami buaya muara,” ujarnya, Sabtu (25/1).

Ia menjelaskan, di seluruh lokasi embung PDAM telah terpasang papan peringatan bertuliskan ‘Dilarang Masuk’ dan ‘Awas Ada Buaya’. Area tersebut secara tegas dinyatakan sebagai zona terbatas, kecuali bagi petugas.

“Embung Persemaian, Indulung, Rawasari, Binalatung, Embung Sungai Bengawan, dan lainnya itu ada buaya. Tapi sampai hari ini masih saja ada warga yang masuk ke area embung. Kalau sekadar jogging tidak masalah, tapi jangan mendekati air,” sambungnya.

Terkait adanya kasus penangkapan buaya di Embung Persemaian, Iwan mengungkapkan bahwa proses evakuasi telah dilakukan sebanyak tiga kali dengan ukuran buaya yang tergolong besar. Namun, kemunculan buaya kembali terjadi secara berulang. Hingga kini, belum pernah dilakukan survei resmi untuk menghitung jumlah buaya yang ada di embung-embung tersebut.

“Sudah ditangkap, tapi muncul lagi. Kami juga tidak tahu buaya-buaya ini datang dari mana. Bisa jadi berpindah melalui jalur air saat malam hari. Embung-embung ini sudah tua dan memang buaya cenderung menyukai habitat seperti ini,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa air di beberapa embung merupakan air limpasan dan bukan air konsumsi langsung, sehingga pengurasan tidak menjadi persoalan teknis besar. Meski demikian, ia kembali mengimbau masyarakat agar tidak memasuki area embung PDAM.

“Selain risiko diterkam buaya, bahaya lain juga mengintai, seperti tenggelam, keberadaan ular, dan satwa liar lainnya. Aktivitas memancing pun sulit dikendalikan karena sering dilakukan secara sembunyi-sembunyi,” urainya.

“Kalau pemancing itu memang sulit dilarang. Kami pergi sebentar, nanti ada lagi. Kami khawatir saat mereka asyik memancing, yang disambar bukan umpannya, tetapi orangnya. Ini kembali ke kesadaran masyarakat masing-masing,” pungkasnya.(Ags)