Obor Ramadan Terangi Tideng Pale, Ribuan Warga Tumpah Ruah Ikuti Pawai‎

Kaltara, Tana Tidung42 Dilihat

TIDENG PALE – Cahaya obor berjejer menyusuri jalanan Kota Tideng Pale, Selasa malam (17/2), menciptakan suasana religius yang hangat dan penuh kebersamaan.

‎Ribuan warga dari berbagai kalangan turun ke jalan mengikuti pawai obor sebagai penanda dimulainya rangkaian penyambutan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah di Kabupaten Tanah Tidung.

‎Pawai tersebut dilepas langsung oleh Bupati Tana Tidung, Ibrahim Ali, yang hadir bersama unsur Forkopimda, jajaran pemerintah daerah, tokoh agama, serta tokoh masyarakat.

Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua yang membawa obor sambil melantunkan selawat.

‎Dalam sambutannya, Ibrahim Ali menyampaikan rasa syukur atas nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga masyarakat Tana Tidung kembali dapat menyambut Ramadan dengan penuh kegembiraan dan kedamaian.

‎ Ia menyebut pawai obor bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi simbol cahaya harapan dan persaudaraan umat Islam.

“Cahaya obor ini melambangkan kebersamaan dan semangat menyambut tamu agung, yaitu bulan suci Ramadan yang penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan,” ujarnya.

‎Ia mengajak seluruh masyarakat menjadikan Ramadan sebagai momentum perubahan, baik secara pribadi maupun sosial.

‎Menurutnya, ibadah puasa harus menjadi sarana untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus mempererat hubungan antarsesama manusia.

‎Lebih lanjut, Ibrahim Ali menekankan pentingnya memperkuat solidaritas sosial selama bulan suci, seperti meningkatkan kepedulian terhadap anak yatim dan kaum duafa, memperbanyak sedekah, serta menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan.

‎Pesan khusus juga disampaikannya kepada para peserta pawai, terutama generasi muda. Ia berharap kegiatan pawai obor mampu menanamkan nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan, sekaligus membentuk karakter generasi yang cinta agama, cinta kedamaian, dan menjunjung tinggi persatuan.

‎“Pawai obor ini rutin kita laksanakan setiap tahun. Ini adalah bagian dari pendidikan karakter dan kebersamaan umat,” tegasnya.

‎Dalam kesempatan tersebut, Ibrahim Ali turut menyinggung perbedaan penetapan awal Ramadan yang terjadi di tengah masyarakat.

‎ Ia mengajak seluruh umat Islam di Tanah Tidung untuk menyikapinya secara bijak dan tidak menjadikan perbedaan sebagai sumber perpecahan.

‎“Perbedaan dalam penetapan awal Ramadan sudah biasa terjadi. Yang terpenting, kita tetap menjaga kerukunan, kekompakan, dan persatuan umat,” katanya.

‎Pawai obor pun berlangsung tertib dan meriah, menjadi simbol kuatnya semangat kebersamaan masyarakat Tanah Tidung dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan.(eno)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *