Waspada! Kekeringan Meluas, Enam Hektare Lahan Terbakar di Tarakan Timur

Tarakan35 Dilihat

TARAKAN – Kekeringan yang melanda Tarakan dalam dua pekan terakhir mulai meninggalkan jejak api. Sejumlah titik kebakaran lahan muncul di beberapa kawasan. Di Tarakan Timur, api melahap lahan seluas sekitar 5 hingga 6 hektare. Sementara luas lahan yang terbakar di Juata Permai masih dalam pendataan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan Yonsep mengatakan kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menjalar. Risiko itu semakin besar ketika pembakaran kebun dilakukan tanpa pengawasan.

“Pemicunya karena kekeringan. Terus kedua, memang ada masyarakat yang membakar kebun dan tidak terkendali,” kata Yonsep, Selasa (12/8).

Tarakan memang tak mengenal musim kemarau dengan pola yang tegas seperti sejumlah daerah lain. Namun, bukan berarti kota ini terbebas dari ancaman kekeringan. Dalam dua pekan terakhir, cuaca yang lebih kering membuat vegetasi dan lahan menjadi lebih mudah terbakar.

“Memang musim kemarau daerah lain. Kalau kita Tarakan ini tidak ada musim, tetapi kekeringan ada,” ujarnya.

Penanganan kebakaran pun bukan tanpa risiko. Sejumlah personel BPBD mengalami luka ringan ketika berjibaku memadamkan api. Ranting dan medan yang sulit menjadi ancaman tersendiri, terutama saat petugas harus membawa selang masuk mendekati titik api.

Meski demikian, tidak ada petugas yang mengalami cedera serius. Penanganan medis juga mendapat dukungan dari Palang Merah Indonesia (PMI).

“Ada, tapi enggak terlalu parah lah, kayak luka-luka ada. Luka ringan aja, tergores, karena membawa selang, membawa masuk, berhadapan dengan api. Karena kita didampingi oleh PMI, cepat penanganannya. Enggak ada yang fatal,” kata Yonsep.

Menurut dia, pekerjaan BPBD jauh lebih luas daripada sekadar memadamkan api. Personel juga melakukan patroli, evakuasi, penyelamatan korban, penanganan pengungsi, mitigasi bencana hingga penyelamatan hewan.

“Petugas kami juga patroli, jadi apa yang dilakukan BPBD sebenarnya mengerjakan tugas berbagai sektor. Kita juga memadamkan api seperti Damkar, menyelamatkan korban bencana alam seperti Basarnas, mengurus pengungsi seperti PMI, melakukan mitigasi bahkan menyelamatkan hewan saat bencana itu juga,” tuturnya.

Beban kerja tersebut, kata Yonsep, menjadi salah satu alasan BPBD Tarakan berharap ada penambahan personel pada tahun depan. Tambahan tenaga dinilai penting agar penanganan bencana dapat berjalan lebih optimal.

“Kami berharap di tahun depan ada penambahan personel agar BPBD Tarakan untuk meningkatkan kinerja lebih maksimal,” tegasnya.

Di tengah meningkatnya risiko kebakaran, BPBD mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan membakar lahan. Aktivitas membuka atau membersihkan kebun bukan persoalan yang dilarang, tetapi harus dilakukan dengan pengawasan dan kesiapan menghadapi kemungkinan api merembet.

Warga yang tetap melakukan pembakaran diminta memastikan api tidak ditinggalkan begitu saja. Sumber air juga perlu disiapkan di sekitar lokasi untuk mengantisipasi api yang tiba-tiba membesar.

“Kita juga tidak melarang masyarakat untuk berusaha untuk kehidupannya seperti berkebun. Tetapi alangkah bijaknya kalau membakar itu dijaga, terus menyediakan sumber air sebelum menjadi kebakaran yang meluas,” ujar Yonsep.

BPBD juga membuka ruang pendampingan bagi masyarakat yang hendak melakukan pembakaran lahan. Warga dapat berkoordinasi dengan pihak kehutanan maupun BPBD melalui layanan darurat 112 untuk mendapatkan mitigasi sebelum pembakaran dilakukan.

“Bisa menghubungi pihak kehutanan atau BPBD melalui 112 untuk mitigasi awal kalau mau membakar. Ada pendampingan,” pungkasnya. (ant/rtg)