TARAKAN – Kondisi cadangan air baku Kota Tarakan menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama saat terjadi periode tanpa hujan dalam waktu panjang. Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan menilai penguatan cadangan air perlu dilakukan untuk mencegah gangguan pelayanan air bersih ketika sumber air mengalami penurunan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tarakan Abdul Azis Hasan mengatakan, ketika kondisi sumber air mulai berada pada tingkat kritis, Tim Kaji Cepat perlu segera melakukan evaluasi bersama instansi terkait, termasuk Perumda Tirta Alam Tarakan dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Evaluasi tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah dalam menetapkan status siaga darurat kekeringan. “Waktu itu dari Perumda Tirta Alam Tarakan menyampaikan, kami punya kekuatan pelayanan itu sudah sekitar tinggal 50 persen. Kalau enggak hujan lagi dalam tiga hari ke depan, ini enggak bisa lagi, sudah turun sampai cuma tinggal 20 persen, 10 persen. Jadi itulah bahaya,” kata Azis, Selasa (29/9).
Menurut Azis, ketahanan cadangan air Tarakan masih menjadi pekerjaan jangka panjang. Berdasarkan kajian Balai Wilayah Sungai (BWS), Tarakan idealnya memiliki sedikitnya 10 embung untuk mendukung kebutuhan air baku. Saat ini baru terdapat lima embung, dengan satu di antaranya merupakan aset Pemkot Tarakan, yakni Embung Persemaian. Sementara empat lainnya merupakan aset pemerintah pusat melalui BWS.
“Minimal di Tarakan ini informasinya idealnya ada 10 embung. Sekarang baru ada lima. Jadi memang kekuatannya belum maksimal,” ujarnya. Karena itu, penambahan embung menjadi salah satu opsi yang dapat dilakukan secara bertahap. Pemkot juga mempertimbangkan solusi jangka panjang dengan mendatangkan air baku dari wilayah Bulungan atau Kabupaten Tana Tidung (KTT).
Selain penambahan embung dan pasokan air dari luar Tarakan, opsi desalinasi air laut juga menjadi pertimbangan. Namun, teknologi tersebut membutuhkan investasi serta biaya operasional yang besar sehingga dapat berdampak terhadap harga air bagi masyarakat. Azis mengatakan sejumlah investor telah menawarkan teknologi pengolahan air laut, dengan skema air hasil pengolahan dibeli Perumda Tirta Alam untuk disalurkan kepada masyarakat. Di sisi lain, pelaksanaan pembangunan sumber air masih terkendala anggaran, sementara kebutuhan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk Tarakan.*(isk/kdy)
