Dua Pekan Kering, Api Kembali Menyala di Sungai Bengawan

Tarakan37 Dilihat

TARAKAN – Api kembali muncul di lahan kawasan Sungai Bengawan, Tarakan, Selasa malam, 11 Agustus 2026. Musim kering yang telah berlangsung sekitar dua pekan membuat lahan dan vegetasi lebih mudah terbakar.

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan masih bertahan di lokasi hingga malam. Mereka memantau pergerakan api sekaligus memastikan kebakaran tidak merembet ke kawasan lain.

Kepala BPBD Tarakan Yonsep mengatakan kebakaran tersebut sejauh ini tidak menimbulkan dampak fatal. Api mulai mereda, tetapi petugas belum meninggalkan lokasi.

“Enggak ada yang fatal. Tenaga ini sudah mulai reda. Kami saja belum pulang, kami masih stay di lapangan memonitor,” kata Yonsep, Selasa malam.

Kebakaran itu menjadi pengingat bahwa lahan kering menyimpan risiko besar ketika pembakaran dilakukan tanpa pengawasan. Dalam kondisi seperti sekarang, api yang semula kecil dapat dengan cepat menjalar mengikuti vegetasi yang mengering.

Yonsep meminta masyarakat tidak menganggap sepele aktivitas pembakaran lahan. Terlebih, kekeringan di Tarakan telah berlangsung sekitar dua pekan.

Ia meminta perangkat di tingkat kelurahan hingga aparat keamanan ikut mengingatkan warga. Babinsa, Bhabinkamtibmas, lurah, dan camat diminta menyampaikan risiko pembakaran selama musim kering.

“Kita berharap masyarakat bekerja sama dengan seluruh lapisan masyarakat. Termasuk aparat terdepan kita ada Babinsa, Bhabinkamtibmas, ada lurah, ada camat, menyampaikan kepada masyarakat supaya berhati-hati dalam membakar di musim kekeringan yang terjadi sekitar dua minggu sudah berjalan di Kota Tarakan,” ujarnya.

BPBD tidak melarang warga berkebun. Yang menjadi perhatian adalah cara membersihkan lahan, terutama bila menggunakan api.

Menurut Yonsep, warga yang terpaksa melakukan pembakaran sebaiknya tidak meninggalkan lokasi. Sumber air juga harus tersedia sejak awal untuk mengantisipasi jika api tiba-tiba membesar.

“Kita juga tidak melarang masyarakat untuk berusaha untuk kehidupannya seperti berkebun. Tetapi alangkah bijaknya kalau membakar itu dijaga, terus menyediakan sumber air sebelum menjadi kebakaran yang meluas,” katanya.

Untuk mengurangi risiko, warga juga dapat meminta pendampingan sebelum melakukan pembakaran. BPBD dan pihak kehutanan dapat dilibatkan untuk memberikan mitigasi awal.

“Bisa menghubungi pihak kehutanan atau BPBD melalui 112 untuk mitigasi awal kalau mau membakar. Ada pendampingan lah bahasanya,” pungkas Yonsep.(ant/rtg)