TIDENG PALE– Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) masih menjadi tantangan utama bagi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Tana Tidung.
Saat ini, jumlah personel yang bertugas dalam satu regu jauh dari standar ideal yang seharusnya dimiliki oleh unit pemadam kebakaran.
Kepala Bidang Pemadaman, Penyelamatan, dan Sarana Prasarana Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Tana Tidung, Yusva Kusuma Jaya, mengungkapkan bahwa berdasarkan standar operasional, satu regu pemadam minimal harus diisi sekitar 18 personel.
Namun kondisi di lapangan jauh berbeda. Saat ini satu regu hanya diisi sekitar enam orang saat normal yang harus menangani berbagai tugas sekaligus.
“Kalau mengikuti standar, satu regu minimal 18 orang. Tapi sekarang satu regu kita hanya enam orang.Kita ada tiga regu. sama pos sub sektor Sesayap Hilir empat personel, harusnya minimal enam,” ujarnya kepada Radar Tarakan saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (6/3).
Ia menjelaskan, idealnya tugas pemadam kebakaran dan penyelamatan (rescue) dipisahkan agar penanganan kejadian bisa lebih fokus dan maksimal.
Namun karena keterbatasan personel, petugas yang sama harus menangani seluruh jenis kejadian.
“Seharusnya pemadaman dan rescue itu berbeda tim. Jadi ketika ada kebakaran dan ada kejadian lain seperti evakuasi atau penanganan hewan berbahaya, semuanya bisa berjalan bersamaan. Tapi karena personel terbatas, yang turun ya orangnya itu-itu juga,” jelasnya.
Saat ini, petugas damkar tidak hanya menangani kebakaran, tetapi juga berbagai operasi penyelamatan seperti evakuasi warga, penanganan ular, hingga sarang tawon.
Di sisi lain, dari segi armada, kondisi dinilai cukup memadai. Namun peralatan yang digunakan sebagian sudah lama dan perlu diperbarui.
“Armada kita Alhamdulillah ada. Tapi beberapa peralatan seperti pompa mesin, pompa serang itu sudah lama dan perlu diperbarui,” katanya.
Selain itu, armada pemadam juga belum menjalani uji berkala selama beberapa tahun terakhir.
“Kalau mengikuti standar, uji berkala armada seharusnya dilakukan dua kali dalam setahun. Tapi armada kami terakhir diuji sekitar tahun 2020. Sekarang sudah 2026 dan belum pernah lagi dilakukan uji berkala,” ungkapnya.
Keterbatasan anggaran juga berdampak pada fasilitas dasar bagi petugas yang berjaga selama 24 jam. Bahkan untuk tempat tidur, petugas harus meminjam dari fasilitas lain.
Saat ini total personel dibagi dalam tiga sif di pos utama.
Namun jumlah tersebut masih belum mencukupi untuk mengoperasikan seluruh armada secara maksimal.
“Armada kita cukup, tapi personelnya yang kurang. Jadi kadang satu orang harus merangkap, bahkan sekaligus mengemudikan mobil saat kejadian,” jelasnya.
Kondisi ini terkadang membuat gerak jadi lambat sampai ke lokasi kebakaran. Damkar juga punya sub sektor Sesayap Hilir dengan anggota empat personel dari idealnya enam.
Meski dengan keterbatasan tersebut, pihaknya tetap berupaya memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat.
“Dengan kondisi yang ada sekarang, kami tetap berusaha semaksimal mungkin menangani kebakaran maupun penyelamatan di Tana Tidung,” ujarnya.
Dia menambahkan, di desa juga terdapat relawan kebakaran yang personelnya terdiri dari perangkat desa.
“Tugas mereka penanganan awal saja, lalu melaporkan kejadian ke kami,” tutupnya. (eno)
Jumlah Personel Damkar Tana Tidung Jauh dari Standar, Hanya Enam Satu Regu






