TIDENG PALE — Program Rumah Sakit Masuk Desa (Rusa Muda) di Kabupaten Tana Tidung tidak akan digelar pada 2026. Pemerintah daerah menunda program pelayanan kesehatan keliling tersebut sebagai dampak kebijakan efisiensi anggaran.
Kepala Dinas Kesehatan Tana Tidung, H. M. Sarif, mengatakan penghentian sementara ini tidak berarti pelayanan kesehatan kepada masyarakat ikut berkurang. Pemerintah tetap menjalankan berbagai layanan kesehatan, salah satunya melalui program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG).
“Untuk tahun 2026 memang kami tunda dulu karena kondisi efisiensi anggaran. Tapi pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan. Saat ini kami fokus pada program pemeriksaan kesehatan gratis. Jika ada indikasi penyakit yang memerlukan penanganan lanjutan, pasien langsung dirujuk ke fasilitas kesehatan,” kata Sarif, Kamis (5/3).
Program Rusa Muda selama ini membutuhkan biaya operasional yang cukup besar. Dalam pelaksanaannya, pemerintah daerah mendatangkan dokter spesialis dari RSUD Achmad Berahim Tideng Pale ke desa-desa terpencil.
Selain tenaga medis, berbagai peralatan kesehatan juga ikut dibawa, seperti alat EKG, USG, dan peralatan medis portabel lainnya. Seluruh perangkat itu dimobilisasi langsung dari rumah sakit daerah.
“Dokter-dokter yang kami bawa berasal dari RSUD Achmad Berahim, lengkap dengan peralatan medis portabel untuk pemeriksaan di lapangan,” ujar Sarif.
Dalam setahun, program ini biasanya dilaksanakan delapan kali kunjungan dengan total anggaran sekitar Rp600 juta. Setiap kegiatan melibatkan banyak tenaga kesehatan sekaligus membutuhkan biaya transportasi dan logistik yang tidak kecil.
Padahal, menurut perhitungan Dinas Kesehatan, jika masyarakat harus berobat sendiri ke dokter spesialis di kota, biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar.
“Kalau berobat mandiri, satu pasien bisa menghabiskan sekitar Rp1,25 juta. Bahkan warga dari desa seperti Tengku Dacing yang harus berobat ke Tarakan bisa mengeluarkan hingga Rp3 juta untuk transportasi, makan, dan penginapan,” kata Sarif.
Melalui program Rusa Muda, seluruh biaya tersebut ditanggung oleh pemerintah daerah. Bahkan warga yang tidak memiliki BPJS Kesehatan tetap bisa mendapatkan layanan medis secara gratis.
“Bentuk bantuan dari pemerintah bukan uang, tapi pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat,” ujarnya.
Selain membantu akses kesehatan, kegiatan ini juga memberi dampak ekonomi bagi warga desa. Saat pelayanan berlangsung, banyak pedagang kecil membuka lapak di sekitar lokasi kegiatan karena ramainya warga yang datang.
Perputaran ekonomi juga dirasakan oleh pengusaha transportasi sungai, seperti speedboat, hingga penyedia penginapan.
Untuk sementara, pemerintah memilih menunda program tersebut sambil menunggu kondisi keuangan daerah membaik. Saat ini, pemerintah daerah juga memprioritaskan peningkatan fasilitas layanan kesehatan, termasuk persiapan pengembangan RSUD Achmad Berahim menjadi rumah sakit kelas C.
Meski program Rusa Muda dihentikan sementara, Dinas Kesehatan memastikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat tetap berjalan melalui fasilitas kesehatan yang ada dan program layanan lainnya. (rtg/ant)
