Masuk Lewat Dapur, Residivis di Tarakan Gasak Rumah Kosong hingga Puluhan Tabung Gas

Kaltara15 Dilihat

TARAKAN — Pintu belakang itu tak pernah benar-benar dikunci. Hanya sebatang kayu yang diselipkan sebagai ganjal. Celah sederhana itulah yang dimanfaatkan SH, 39 tahun, untuk melancarkan aksinya. Tanpa perlu merusak pintu utama, ia cukup mendorong sedikit, lalu masuk ke dalam rumah yang ditinggal pemiliknya mudik.

Aksi pencurian ini bukan sekali terjadi. Salah satunya bahkan sempat beredar luas di media sosial, memperlihatkan bagaimana rumah kosong menjadi sasaran empuk. Polisi menyebut, pelaku bergerak dengan pola yang sama: mengincar rumah tanpa penghuni dan akses belakang yang lemah.

Kanit Pidum Satreskrim Polres Tarakan, Inspektur Polisi Dua Eko Susilo, mengatakan pelaku kerap memanfaatkan kelengahan pemilik rumah. “Pintu belakang hanya diganjal kayu, sehingga pelaku cukup mendorong untuk masuk,” ujarnya.

Begitu berada di dalam, SH tak berhenti di dapur. Ia menyisir seluruh ruangan. Untuk membuka pintu-pintu yang terkunci, ia menggunakan alat seadanya yang ditemukan di lokasi. Obeng dan linggis menjadi kunci untuk menjangkau kamar-kamar yang menyimpan barang berharga.

Yang diambil pun beragam—bukan hanya barang bernilai tinggi, tetapi juga kebutuhan rumah tangga. Kompor gas, mixer, vacuum cleaner, hingga puluhan tabung gas berbagai ukuran ikut digasak. Seolah tak memilih, pelaku mengangkut apa saja yang bisa dijual kembali.

Dalam pengungkapan kasus ini, polisi mengamankan sejumlah barang bukti, mulai dari jam tangan merek Jaguar hingga telepon genggam dan peralatan rumah tangga lainnya. Sebagian barang itu, kata Eko, sudah sempat dilepas ke pasaran dengan harga miring. “Ada yang dijual Rp 550 ribu sampai Rp 1 juta, tergantung jenis barang,” katanya.

Dari tiga lokasi kejadian, total kerugian korban diperkirakan mencapai Rp 35 juta. Para korban berasal dari latar belakang berbeda—nelayan, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga—namun memiliki satu kesamaan: meninggalkan rumah dalam kondisi minim pengamanan.

Polisi kini menelusuri pihak-pihak yang membeli barang hasil curian tersebut. Status mereka masih sebagai saksi, sembari didalami kemungkinan adanya unsur kesengajaan.

Kasus ini kembali menegaskan kerentanan rumah kosong, terutama saat musim mudik. Kepolisian mengingatkan warga untuk memastikan sistem pengamanan rumah benar-benar memadai sebelum ditinggalkan. Sebab, bagi pelaku, celah kecil di pintu belakang bisa berarti jalan masuk yang terbuka lebar. (rtg/ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *