Kenaikan Harga Cabai dan Tomat Picu Keluhan Pembeli di Malinau

Bisnis, Kaltara, Malinau194 Dilihat

Kaltarapos.id – Harga sejumlah komoditas hortikultura di Pasar Induk Malinau mengalami kenaikan sejak Senin (9/2). Berdasarkan laporan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malinau, komoditas yang naik antara lain tomat, cabai merah keriting, dan cabai rawit merah.

Harga tomat tercatat naik cukup tajam dari Rp15.000 menjadi Rp20.000 per kilogram. Cabai merah keriting turut mengalami kenaikan dari Rp67.500 menjadi Rp70.000 per kilogram. Sementara itu, cabai rawit merah melonjak dari Rp66.250 menjadi Rp75.000 per kilogram.

Kenaikan harga tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat. Rina, warga Malinau Kota, mengaku kenaikan harga tomat dan cabai cukup membebani pengeluaran rumah tangga.

“Beberapa hari lalu masih Rp15 ribu, sekarang sudah Rp20 ribu. Cabai rawit juga naik,” ujarnya saat ditemui berbelanja di Pasar Induk Malinau.

Hal serupa disampaikan Farhan, mahasiswa asal Makassar yang tinggal di Malinau. Ia mengaku terpaksa mengurangi pembelian cabai karena harganya semakin mahal.

“Saya suka makan pedas. Kalau sudah Rp75 ribu per kilo, mau tidak mau beli lebih sedikit supaya tetap cukup untuk kebutuhan lain. Saya tinggal sendiri juga,” katanya, Rabu (11/2).

Meski demikian, berdasarkan data harga harian, sebagian besar bahan pokok lainnya masih terpantau stabil. Harga beras Randa tercatat Rp11.000 per kilogram, beras SPHP Bulog Rp13.100 per kilogram, gula pasir Rp20.000 per kilogram, dan minyak goreng kemasan premium Rp24.250 per liter. Sementara Minyakita masih berada di angka Rp19.750 per liter.

Untuk sumber protein, harga telur ayam ras bertahan di Rp33.000 per kilogram, daging ayam ras karkas Rp50.000 per kilogram, serta daging sapi paha belakang Rp160.000 per kilogram. Komoditas lain seperti tepung terigu juga stabil di harga Rp15.000 per kilogram.

Dengan kondisi tersebut, kenaikan harga lebih terasa pada komoditas hortikultura, khususnya tomat dan cabai. Warga berharap pasokan segera kembali lancar agar harga dapat kembali normal dan tidak semakin membebani pengeluaran rumah tangga.(***)