TARAKAN – Semrawutnya jaringan kabel utilitas di sejumlah ruas jalan Kota Tarakan dinilai tidak hanya mengganggu estetika kota, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi. Akademisi Universitas Borneo Tarakan (UBT) menilai kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya logistik, menghambat distribusi barang, hingga menurunkan daya tarik investasi.
Akademisi Ekonomi UBT, Dr. Margiyono, S.E., M.Si., mengatakan kabel utilitas yang menggantung rendah kerap menghambat kendaraan bertonase besar, seperti truk pengangkut peti kemas dan alat berat. Akibatnya, kendaraan harus berhenti atau mencari jalur lain sehingga waktu tempuh dan biaya operasional meningkat.
“Kalau distribusi barang tidak lancar, ongkos logistik ikut naik. Waktu terbuang, biaya operasional bertambah, produktivitas menurun. Pada akhirnya biaya itu akan memengaruhi harga barang yang dibayar masyarakat,” ujarnya.
Selain berdampak pada distribusi barang, Margiyono menilai kondisi utilitas yang tidak tertata juga dapat memengaruhi persepsi investor terhadap kualitas infrastruktur dan tata kelola Kota Tarakan. Menurutnya, kota yang rapi mencerminkan pengelolaan pembangunan yang baik dan lebih menarik bagi investasi.
Ia berharap pemerintah bersama penyedia layanan utilitas mulai melakukan penataan jaringan kabel secara bertahap, termasuk membersihkan kabel yang sudah tidak digunakan. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperbaiki estetika kota, meningkatkan efisiensi ekonomi, serta mendukung Tarakan sebagai kota modern dan pusat pertumbuhan di Kalimantan Utara.(ISK)
