Harga Plastik Melonjak hingga 50 Persen, Pelaku Usaha di Tarakan Mulai Tertekan

Kaltara, Tarakan55 Dilihat

TARAKAN — Lonjakan harga bahan baku plastik dalam beberapa pekan terakhir mulai menekan rantai usaha kemasan di Kota Tarakan. Kenaikan yang menembus lebih dari 50 persen memaksa distributor menaikkan harga jual, sementara pelaku usaha kecil mulai mengurangi volume pembelian.

Kepala Toko KA Mart (Kasih Anugerah Mart) Tarakan, Jery, menyebut kenaikan kali ini sebagai yang tertinggi sejak usahanya berjalan. “Kenaikannya sangat signifikan, di kisaran 50 persen ke atas. Ini bukan kenaikan biasa, harganya sudah terbang tinggi,” ujarnya, Selasa, 7 April.

Menurut dia, lonjakan terjadi langsung dari produsen sehingga distributor tidak memiliki ruang untuk menahan harga. Dampaknya paling terasa saat melakukan pemesanan ulang. “Barang yang sebelumnya kami beli sekitar Rp 500 ribu per karung, sekarang bisa naik jadi Rp 900 ribu sampai Rp 1 juta. Hampir dua kali lipat dalam satu siklus pemesanan,” kata Jery.

Ia menjelaskan, industri plastik nasional masih bergantung pada bahan baku impor seperti resin dan turunan petrokimia. Gangguan pasokan global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah, turut mendorong kenaikan harga bahan baku dan berimbas hingga ke daerah.

Kondisi ini membuat distributor terpaksa menyesuaikan harga jual. Produk plastik gelas atau cup, misalnya, naik dari sekitar Rp 8 ribu menjadi Rp 12 ribu per pak. “Kami sebenarnya berat menaikkan harga, tapi kalau tidak disesuaikan, modal usaha tidak bisa berputar,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Zulnaini, pemilik Toko Raya Bersaudara di Jalan Bhayangkara. Ia menyebut kenaikan terjadi hampir di semua jenis produk kemasan. Untuk wadah makanan jenis thinwall, harga naik dari sekitar Rp 25 ribu menjadi Rp 32 ribu per pak.

“Hampir semua lini naik, dari cup sampai thinwall. Kenaikannya merata,” kata Zulnaini.

Dampaknya mulai terasa pada pola belanja pelanggan, terutama pelaku usaha kecil seperti penjual makanan dan minuman. Menurut dia, pelanggan tetap membeli, namun dalam jumlah lebih sedikit.

“Sekarang mereka tetap beli, tapi volumenya dikurangi. Menyesuaikan biaya produksi mereka,” ujarnya.

Penurunan daya beli itu berdampak langsung pada omzet. Jika sebelumnya penjualan cup plastik bisa lebih dari 20 pak per hari, kini turun drastis bahkan tak mencapai 10 pak.

Zulnaini berharap harga segera stabil agar tidak semakin membebani pelaku usaha kecil. “Kalau terus naik, kami khawatir usaha kecil makin tertekan karena biaya produksi ikut meningkat,” katanya. (rtg/ant)