El Nino Super Mengancam Asia Tenggara, Kaltara Perlu Bersiap

Bulungan, Kaltara139 Dilihat

TARAKAN — Ancaman cuaca ekstrem kembali membayangi Asia Tenggara. Fenomena El Nino Super diperkirakan membawa suhu lebih panas, kekeringan lebih panjang, serta tekanan terhadap pertanian dan ketersediaan air hingga tahun depan.

Dampaknya bukan hanya soal cuaca. Harga pangan, produksi pertanian, pasokan listrik, kebakaran hutan dan lahan hingga kesehatan masyarakat bisa ikut terdampak.

Bagi Kalimantan Utara, ancaman ini patut diperhatikan. Provinsi yang berbatasan langsung dengan Malaysia tersebut memiliki kawasan hutan luas, lahan pertanian, perkebunan, sungai dan wilayah pesisir yang sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Fenomena El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di wilayah tropis Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menghangat di atas kondisi normal. Perubahan itu kemudian memengaruhi pola cuaca di berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara.

Para ahli menyebut istilah “El Nino Super” bukan klasifikasi ilmiah resmi. Istilah itu digunakan untuk menggambarkan El Nino dengan intensitas sangat kuat.

Ilmuwan iklim dari National University of Singapore, Ming Yi, mengatakan kondisi ekstrem terjadi ketika suhu permukaan laut melonjak jauh di atas normal. Persoalannya, El Nino kali ini berlangsung ketika suhu bumi sudah lebih panas dibandingkan masa lalu.

“Super El Nino memang pernah terjadi, tetapi saat itu suhu bumi belum mencapai tingkat seperti sekarang,” kata Seree Supratid, Direktur Climate Change and Disaster Center di Rangsit University.

Menurut pemodelan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), El Nino telah terbentuk di Samudra Pasifik dan berpotensi menguat dengan cepat. Puncak fenomena tersebut biasanya terjadi antara November dan Februari.

Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan yang perlu mewaspadai dampaknya.

Kekeringan Mengintai

Thailand menjadi salah satu negara yang bersiap menghadapi tekanan besar terhadap pertanian dan sumber air. Petani padi dan tebu di kawasan timur laut Thailand mulai mengubah pola usaha tani karena khawatir kekurangan air.

Surachai Parunram, 55 tahun, salah satunya. Petani tersebut mulai mengganti jenis tanaman dan memelihara hewan yang lebih tahan terhadap kondisi kering.

“Iklim sekarang benar-benar tidak bisa diprediksi. Sebentar panas, lalu hujan,” kata Surachai.

Kekhawatirannya sederhana: ketika air tidak tersedia, petani kehilangan sumber pendapatan. Sementara biaya produksi dan utang tetap harus dibayar.

Ancaman serupa dapat merembet ke negara-negara lain di kawasan Mekong, seperti Laos, Kamboja, Vietnam dan Myanmar.

Indonesia dan Malaysia menghadapi risiko terhadap pertanian serta kebakaran hutan dan lahan. Filipina berpotensi mengalami tekanan terhadap pertanian, sumber air dan pembangkit listrik tenaga air. Singapura relatif lebih aman dari kekeringan pertanian, tetapi tetap berisiko menghadapi panas ekstrem, kabut asap lintas batas dan kenaikan harga pangan.

Bagi Indonesia, pengalaman El Nino kuat bukan perkara baru. Pada 1997–1998, kekeringan panjang memicu kebakaran hutan dan lahan dalam skala besar. Asap kemudian menyelimuti sejumlah wilayah Indonesia dan negara tetangga.

Peristiwa serupa terjadi pada 2015–2016. Produksi beras di Asia Tenggara menurun akibat kekeringan.

Kini kekhawatiran itu kembali muncul.

Dampaknya Bisa Sampai ke Meja Makan

El Nino tidak berhenti di lahan pertanian. Gangguan produksi pangan dapat mendorong harga komoditas naik.

Beras dan minyak sawit termasuk komoditas yang berpotensi terdampak. Ketika produksi turun, kebutuhan impor meningkat. Harga pangan pun berpeluang ikut terkerek.

Riset Bloomberg Economics menunjukkan El Nino dapat mendorong inflasi pangan di Indonesia dan Filipina. Dalam peristiwa El Nino sebelumnya, kenaikan harga konsumen bahkan diperkirakan mendekati dua poin persentase.

Bagi masyarakat Kaltara, dampaknya dapat terasa melalui harga kebutuhan pokok. Kalimantan Utara masih bergantung pada pasokan dari luar daerah untuk sejumlah komoditas. Gangguan produksi di daerah pemasok bisa berujung pada kenaikan harga di pasar.

Kekeringan juga dapat memengaruhi ketersediaan air. Sungai dan sumber air yang debitnya turun akan menambah tekanan bagi rumah tangga, pertanian dan sektor usaha.

Di sisi lain, peningkatan suhu laut dapat memicu pemutihan terumbu karang. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu ekosistem laut dan sektor pariwisata.

Persoalan ini relevan bagi Kaltara yang memiliki kawasan pesisir dan destinasi wisata bahari seperti Derawan dan wilayah sekitarnya di Kalimantan Timur, serta kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di Kaltara.

Indonesia Mulai Bersiap

Pemerintah Indonesia telah menyiapkan sejumlah langkah menghadapi ancaman kekeringan dan kebakaran.

Sekitar 100 ribu pompa air disebut telah didistribusikan. Pemerintah juga merehabilitasi sekitar 900 ribu hektare jaringan irigasi serta menyalurkan benih yang lebih tahan terhadap kekeringan.

Di sisi lain, satuan tugas lintas lembaga dikerahkan untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan yang telah meluas.

Langkah tersebut penting karena kekeringan dan karhutla memiliki hubungan erat. Lahan yang kehilangan kelembapan lebih mudah terbakar. Api kemudian menghasilkan asap yang dapat bergerak mengikuti arah angin dan mengganggu wilayah lain.

Bagi Kaltara, pencegahan karhutla menjadi penting bukan hanya untuk menjaga hutan, tetapi juga melindungi masyarakat dari dampak asap.

Petani Tidak Bisa Menunggu

Masalah terbesar bukan semata-mata apakah pemerintah memiliki program. Persoalannya adalah apakah informasi dan bantuan tersebut benar-benar sampai kepada petani.

Surachai mengaku masih menemukan petani yang tidak percaya terhadap informasi mengenai ancaman kekeringan.

“Petani jarang percaya karena informasi dari pemerintah tidak jelas. Informasi yang tidak konsisten membuat petani kehilangan kepercayaan kepada semua pihak,” ujarnya.

Para ahli mendorong pemerintah agar lebih cepat membantu petani beradaptasi. Salah satunya dengan mengurangi penanaman tanaman yang membutuhkan banyak air ketika musim kering dan menggantinya dengan tanaman yang lebih tahan kekeringan.

Pembuatan kolam penampungan air di lahan pertanian juga menjadi salah satu pilihan.

Bagi daerah seperti Kaltara, langkah tersebut dapat diterapkan sesuai karakter wilayah. Petani perlu mendapatkan informasi mengenai prakiraan cuaca, ketersediaan air dan pilihan tanaman sebelum musim tanam dimulai.

Kekeringan Tak Selalu Berarti Tanpa Hujan

Ada paradoks yang perlu diwaspadai. El Nino dapat menyebabkan musim kering lebih panjang, tetapi ketika hujan akhirnya datang, intensitasnya bisa sangat tinggi.

Para ahli menyebut fenomena itu sebagai “bom hujan”: hujan sangat deras dalam waktu singkat.

Kondisi tersebut dapat memicu banjir dan longsor, terutama di wilayah dengan tutupan lahan yang telah berkurang atau sistem drainase yang tidak memadai.

Artinya, pemerintah daerah tidak cukup hanya menyiapkan diri menghadapi kekeringan. Infrastruktur pengendali banjir juga perlu dipastikan siap.

Pengalaman ini penting bagi Kaltara. Cuaca ekstrem dapat datang dalam dua wajah: kemarau panjang dan hujan dengan intensitas tinggi.

Yang Paling Rentan

Dampak El Nino tidak dirasakan secara merata. Kelompok berpenghasilan rendah, petani kecil, nelayan, pekerja luar ruangan dan masyarakat yang bergantung langsung pada sumber daya alam berada di garis depan.

Organisasi kemanusiaan CARE memperingatkan El Nino dapat memperburuk kerawanan pangan, tekanan ekonomi dan gangguan rantai pasok.

Perempuan dan anak perempuan juga termasuk kelompok yang rentan. Ketika bahan pangan dan air semakin sulit diperoleh, beban pengelolaan kebutuhan rumah tangga sering kali meningkat.

Sementara di perkotaan, panas ekstrem menjadi ancaman tersendiri.

Aspal, beton dan bangunan menyerap panas pada siang hari dan melepaskannya kembali pada malam hari. Fenomena yang dikenal sebagai urban heat island itu membuat kota terasa lebih panas.

Tarakan dan kota-kota lain di Kaltara perlu mengantisipasi kondisi tersebut dengan memperbanyak ruang hijau, menjaga pepohonan dan memperbaiki sistem drainase.

Kaltara Perlu Menghitung Risiko dari Sekarang

El Nino memang merupakan fenomena alam. Namun, besar kecilnya dampak sangat ditentukan oleh kesiapan manusia.

Bagi Kaltara, sejumlah langkah dapat dilakukan sejak dini: memperkuat pemantauan karhutla, memastikan sumber air tetap tersedia, menjaga jaringan irigasi, menyiapkan petani menghadapi perubahan pola hujan, serta memperkuat informasi cuaca hingga ke tingkat desa.

Koordinasi antardaerah juga penting. Sungai, hutan, asap dan rantai pasok pangan tidak mengenal batas administrasi.

Pengalaman negara-negara di kawasan Mekong menunjukkan bahwa berbagi data dan informasi dapat membantu pemerintah mengambil keputusan lebih cepat. Mekong River Commission kini menggunakan data hampir real-time dari puluhan stasiun pemantauan dan informasi operasional sejumlah bendungan untuk membantu mengantisipasi kekeringan.

Bagi Kaltara, pesan dari ancaman El Nino cukup jelas: jangan menunggu air benar-benar habis untuk mulai menghemat air. Jangan menunggu api membesar untuk mulai memadamkan karhutla.

Petani seperti Surachai telah memilih beradaptasi. Ia menanam dengan mempertimbangkan ketersediaan air, menyisihkan lahan untuk menampung air dan mencoba teknologi baru.

“Kita membutuhkan strategi untuk bertahan hidup dengan air sebagai faktor utama,” katanya.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun menghadapi iklim yang semakin sulit ditebak, air memang menjadi salah satu kunci utama bertahan. (*)