Air Baku Menipis, Tirta Taka Berlakukan Zonasi Layanan

Kaltara, Nunukan17 Dilihat

NUNUKAN — Ketersediaan air baku di Embung Bolong, salah satu sumber utama Perumda Air Minum Tirta Taka, terus menyusut. Kondisi ini memaksa perusahaan daerah itu mengatur ulang distribusi air demi menjaga pasokan tetap berjalan.

Direktur Perumda Tirta Taka Nunukan, Arpiansyah, mengatakan langkah awal yang diambil adalah membagi layanan ke dalam dua zona: wilayah kota dan Nunukan Selatan. Embung Bolong selama ini melayani keduanya.

“Kami mengurangi debit dan membagi layanan menjadi dua zonasi agar distribusi tetap terjaga,” kata Arpiansyah, Senin, 30 Maret.

Dalam kondisi normal, embung tersebut mampu menyuplai hingga 100 liter per detik. Kini, debitnya tinggal sekitar 50 liter per detik. Penurunan ini berdampak pada pola distribusi air ke pelanggan.

Menurut Arpiansyah, sistem zonasi membuat aliran air tidak selalu tersedia setiap saat. Ada jeda waktu yang diperlukan untuk mengisi jaringan pipa sebelum air sampai ke rumah pelanggan.

Ketinggian air di Embung Bolong saat ini tercatat 1,14 meter. Dengan cakupan layanan yang luas, kondisi ini dinilai rawan jika tidak segera diantisipasi.

Sementara itu, Embung Bilal—sumber air lainnya—masih dalam kondisi relatif aman. Cadangan air di sana diperkirakan mampu bertahan hingga satu bulan ke depan. Meski demikian, pemantauan terus dilakukan.

Perusahaan berharap hujan segera turun untuk menambah pasokan. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nunukan, dalam sepekan ke depan belum ada potensi hujan di wilayah tersebut.

Jika kondisi terus memburuk, Tirta Taka menyiapkan skenario tambahan dengan membagi layanan menjadi tiga zona. “Kami juga mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak dan menampung secukupnya,” ujar Arpiansyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *