NUNUKAN – Banjir yang melanda Kabupaten Nunukan pada Senin (3/8) dini hari tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga berdampak pada sektor pertanian. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nunukan mencatat sedikitnya 60 hektare lahan sawah di Kecamatan Nunukan dan Nunukan Selatan terendam.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Nunukan, H. Asmar, mengatakan lahan yang terdampak merupakan sawah yang baru selesai ditanami. Tingginya curah hujan menyebabkan air meluap hingga ke kawasan persawahan dan merendam tanaman padi yang masih berada pada fase awal pertumbuhan.
“Yang terdampak permukiman warga dan sektor pertanian juga cukup besar. Sawah yang baru ditanami terendam cukup lama sehingga berpotensi mengalami kerusakan dan mengganggu produksi petani,” kata Asmar.
Berdasarkan hasil kaji cepat BPBD Nunukan, lahan sawah yang terdampak tersebar di tiga wilayah. Sekitar 25 hektare berada di Sei Apuk, 15 hektare di Binusan, dan 20 hektare di Sei Fatimah.
Asmar menjelaskan, masa awal tanam merupakan salah satu fase paling rentan bagi tanaman padi. Apabila genangan bertahan terlalu lama, tanaman berpotensi mati sehingga petani harus melakukan penanaman ulang.
“Seluruh lahan merupakan sawah yang baru selesai ditanami. Kondisi baru memasuki masa tanam merupakan fase yang paling rentan. Jika genangan bertahan terlalu lama, kemungkinan besar tanaman akan mati dan petani harus melakukan tanam ulang,” ungkapnya.
Saat ini BPBD Nunukan masih melakukan pendataan bersama perangkat daerah terkait untuk memastikan luas lahan yang terdampak sekaligus menghitung potensi kerugian yang dialami petani. Data tersebut nantinya menjadi dasar pemerintah dalam menentukan langkah penanganan dan kemungkinan bantuan bagi masyarakat terdampak.
BPBD juga mengimbau petani segera melaporkan apabila terdapat penambahan area persawahan yang terendam maupun kerusakan lainnya akibat banjir. Dengan laporan yang cepat, pemerintah dapat segera melakukan pendataan dan menentukan langkah penanganan.*(Isk/kdy)
