Inflasi Kaltara Januari 2026 Terkendali, Emas Jadi Pendorong Utama

Bisnis, Kaltara51 Dilihat

Kaltarapos.id – Laju inflasi Provinsi Kalimantan Utara pada Januari 2026 masih terkendali. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Bank Indonesia, inflasi gabungan tiga kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kaltara tercatat sebesar 0,10 persen secara bulanan (mtm) dan 4,08 persen secara tahunan (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik, menyebut kenaikan harga emas perhiasan menjadi pendorong utama inflasi awal tahun ini. Ia menjelaskan, harga emas naik seiring ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve serta meningkatnya ketegangan geopolitik global.

“Inflasi Januari 2026 di Kalimantan Utara berada pada level yang terkendali. Tekanan harga tidak bersifat luas dan masih bisa diantisipasi melalui penguatan koordinasi pengendalian inflasi daerah,” ujarnya.

Berdasarkan wilayah IHK, Kabupaten Nunukan menjadi satu-satunya daerah yang mencatat inflasi sebesar 0,81 persen (mtm). Sebaliknya, Kota Tarakan mengalami deflasi 0,15 persen (mtm) dan Tanjung Selor deflasi 0,43 persen (mtm).

Bank Indonesia menilai tekanan harga pada awal tahun tidak merata dan lebih dipengaruhi faktor spesifik di masing-masing daerah. Penurunan harga angkutan udara setelah periode Natal dan Tahun Baru menahan laju inflasi dari kelompok transportasi. Pasokan ikan bandeng yang melimpah serta normalisasi harga cabai rawit juga membantu meredam tekanan pada kelompok makanan.

Namun, selain emas perhiasan, harga ikan layang naik akibat cuaca yang kurang mendukung sehingga memengaruhi hasil tangkapan nelayan. Tarif angkutan laut pun kembali naik setelah berakhirnya kebijakan diskon masa Nataru.

Menghadapi Ramadan dan Idulfitri, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat langkah antisipatif, seperti menjaga ketersediaan pasokan, memastikan kelancaran distribusi, serta mengendalikan ekspektasi inflasi masyarakat.

“Kami terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah melalui TPID untuk menjaga stabilitas harga, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri yang biasanya diikuti peningkatan permintaan,” tegas Hasiando.

Bank Indonesia optimistis inflasi Kaltara tetap berada dalam rentang sasaran nasional dan mampu menjaga daya beli masyarakat di awal tahun 2026.(Ags)