Kaltarapos.id – Potensi perkebunan kakao di Kalimantan Utara (Kaltara) saat ini masih cukup menjanjikan, khususnya di Kabupaten Bulungan.
Berdasarkan data Dinas Pertanian (Dispertan) Bulungan, lahan perkebunan kakao di Bulungan seluas 55 hektare dengan sebaran di Tanjung Palas, Tanjung Palas Timur dan Sekatak.
Bahkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan saat ini optimistis untuk terus mengembangkan perkebunan kakao ini sebagai salah satu unggulan daerah.
Namun, dalam perkembangannya, tak dipungkiri bahwa harga kakao di Bulungan turun drastis, dari yang sebelumnya di atas Rp 100 ribu, saat ini sudah tidak sampai Rp 100 ribu per kilogram.
Kepala Dispertan Bulungan, Kristianto menyebutkan bahwa saat ini harga biji kakao kering hasil fermentasi berada pada kisaran Rp 65 ribu hingga Rp 80 ribu per kilogram.
Sedangkan untuk yang non fermentasi dihargai sekitar Rp 40 ribu per kilogram. Untuk biji basah per kilogram berkisar antara Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu.
“Pada Agustus – November 2025 lalu, di Antutan (Tanjung Palas) harga biji kakao kering sampai Rp 120 ribu per kilogram,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (19/1).
Bahkan, persaingan terjadi di tingkat pengepul yang berani membeli biji kakao kering hingga Rp 145 ribu per kilogram. Tentunya, kualitas menjadi faktor penentu agar kakao Bulungan bisa bersaing di pasaran.
Dalam hal ini, proses fermentasi juga menjadi penentu kualitas atau mutu dari biji kakao yang dihasilkan. Fermentasi yang benar itu prosesnya 3 – 5 hari sebelum penjemuran dilakukan.
“Kita terus mendorong para petani untuk menetapkan standar pengolahan yang benar. Karena proses yang tidak benar akan mempengaruhi kualitas yang kemudian akan berdampak pada harga jual,” jelasnya.
Kendati demikian, ia tetap optimistis komoditas kakao masih menjanjikan hingga lima tahun ke depan. Karena, diprediksi permintaan pada pasar global masih tetap tinggi terhadap komoditas ini.
Untuk memperkuat daya saing komoditas kakao Bulungan, pembinaan kepada petani terus dilakukan oleh Pemkab Bulungan. Termasuk dengan memberikan bantuan alat pengering dan kotak fermentasi.
“Prinsipnya, mulai dari hulu hingga ke hilir harus kita perkuat. Artinya, dorongan kepada petani untuk menjaga kualitas dibarengi dengan bantuan pemerintah melalui penyiapan fasilitas,” pungkasnya. (Ags)






